Mengenal Karst dari Tanah ‘De Haav van De Oesten’

“Dari alam kita belajar, bahwa kita bukan siapa-siapa, bukan apa-apa”

 

Dari Tanah Sulawesi Selatan, tanah kelahiran pahlawan tersohor Sultan Hasanuddin yang dikenal dengan julukan De Haav van De Oesten yang berarti Ayam Jantan Dari Timur.

Dari sanalah gue kenal secara langsung dengan Karst, fenomenal alam yang sebelumnya tidak gue kenal secara persis. Karst sendiri menurut wikipedia berarti sebuah bentuk permukaan bumi yang pada umumnya dicirikan dengan adanya depresi tertutup (closed depression), drainase permukaan, dan gua. Daerah ini dibentuk terutama oleh pelarutan batuan, kebanyakan batu gamping.

Berlokasi di Daerah Maros, sekitar  1 jam berkendara dari Makassar, kalian yang memilih menggunakan angkutan umum bisa menggunakan angkot atau pete-pete dalam bahasa lokal. tarifnya jika dari kawasan Jl. Poros, Makassar yaitu sekitar Rp 10.000.

Gue suka panorama selama perjalanan menuju Maros. Masih banyak dijumpai kawasan hutan dan perkebunan membuat udaranya cukup sejuk. Jika sudah mendekati lokasi tujuan kita, kalian akan melihat signage besar yang terpampang di sisi bukit yang bertuliskan ‘Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung’. Ya, begitulah nama lokasi tujuan kita kali ini yang bisa kita singkat menjadi TN Babul.

Gate yang akan menyambut kalian berbentuk kupu-kupu raksasa. Selain Karst, Taman Nasional ini memang dikenal juga dengan Kerajaan Kupu-kupu dimana terdapat area khusus yang digunakan sebagai penangkaran dan pembiakan hewan indah satu itu.

1450207_10200159152541999_717486659_n
Gate TN Babul

Oh iya, petualangan ini ditemani oleh team dari Bogor : Gue, Vivi, Opung, Wary, dan Iffah, serta team tuan rumah super baik hati : Ria, Hanah, Imam, dan Akbar. (Big thank for u all laskar Makassar)

Memasuki parkir dan loket, suasana alam liar udah kental terasa. Kalian bakal melihat bukit-bukit yang menjulang bersanding pula dengan deretan lapak penjual souvenir. Umumnya mereka menjajakan awetan kupu-kupu yang memang menjadi khas dari Bantimurung.

DSC_0776
Bukit nan menjulang
post-37373-0-17342600-1430912565
Loket Tiket dan Pintu Masuk

Siapkan uang Rp 15 ribu… untuk tiket masuk tentunya. Setelahnya,baru kalian bisa masuk dan menikmati lanskap alami yang telah dikelola sebagai kawasan wisata ini.

Awal masuk, papan interpretasi sudah bisa menjadi panduan kalian menyusuri tiap bagian lokasi wisata ini. Kolam alami akan menyambut sebagai objek pertama, Kolam Jamala, begitulah nama tertera di papan penanda nya. Air dari kolam ini berasal dari goa sungai bawah tanah. Air nya juga dipercaya masyarakat sebagai tempat mandi para bidadari. Kalian yang merasa bidadari, silahkan mandi.. hahaha…

Di sisi lain, terdapat juga kolam lain yang bisa dimanfaatkan untuk berenang karena sudah tersedia perosotan kolam. Mirip kolam renang berkonsep alam kurang lebih.

1451495_10200159154462047_413805953_n
Suasana awal memasuki TN
1425714_10200159154942059_870466631_n
Kolam renang

Menengok sisi lain, kalian akan melihatpetunjuk arah ke museum kupu-kupu, tapi sayangnya gue gak sempet masuk karena faktor waktu. Jadi kita lewatkan bagian tersebut.

Berjalan beberapa puluh meter, kalian akan semakin dibawa masuk ke suasana alam. Suara aliran sungai pun semakin jelas terdengar. Namun ternyata, tidak hanya sungai, tapi juga ada air terjun dengan ukuran cukup melebar. Tingginya hanya sekitar 6 meteran, tapi lebarnya sekitar 20 meter, jadi terbilang cukup unik. Apalagi sungainya tidak terlalu dalam meskipun cukup deras, sehingga harus cukup berhati-hati.

Jika kalian punya kesempatan lebih, ada baiknya coba river tubing karena cukup banyak yang melakukannya.

DSC_0725
aliran sungai

Tidak hanya dari sisi bawah, kalian bisa menikmati keindahan air terjun ini dari sisi atas. Kalian cukup menapaki tangga yang sudah tersedia di sisi kiri air terjun. Dari sini pula, jalur wisata akan membawa kalian menyusuri keindahan alam karst Bantimurung, mulai dari sungai, perbukitan, dan hutan tropis.

Dan sedikit info, meskipun beberapa bagian sungai yang kalian lihat nampak sangat tenang tanpa arus, namun jangan mencoba berenang disana karena arus deras justru ada di dasar sungai, sebagai mana ciri khas dari kawasan Karst.

Setelah berjalan beberapa puluh meter, kami diinfokan untuk mencoba masuk ke salah satu goa. Di TN Babul ini sendiri kabarnya ada puluham goa, dan salah satu yang bersahabat untuk dikunjungi ialah yang satu ini.

Untuk menuju pintu goa memang butuh waktu. sekitar 15-20 menit jalan kaki dari air terjun. Selama perjalanan, nuansa hutan akan lebih kental terasa.

post-37373-0-74484500-1430912976
Perjalanan menuju Goa

Masuk ke goa sebenarnya gratis, namun karena itu goa yang artinya tidak ada cahaya, jadilah hal itu dimanfaatkan pengelola untuk menyediakan jasa peminjaman senter. Tarifnya Rp 20rb untuk senter dan Rp 40rb untuk petromak. Tapi tenang, itu sudah termasuk guide yang akan menemani penelusuran Goa.

Setiba di mulut goa, bersiaplah untuk berhati-hati dengan langkah dan kepala. Stalagmit dan stalagtit di dalam goa juga akan menjadi peneman selama berada di dalam goa.

DSC_0750
Mulut Goa

 

Gak begitu lama didalam goa, karena faktor waktu akhirnya kami mengakhiri petualangan di goa sekaligus di kawasan TN Bantimurung Bulusaraung ini.

Menyenangkan, penuh Pengalaman. Terima Kasih Tanah Celebes.

Ewako !

 

ini video dokumentasi nya -> Trip Makassar

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s